Niken Widi

  • Home
  • Travelling
  • Marketing
  • Daily Life
  • Review
  • Tips & Trick
  • Info
Halo gais selamat siang
Kali ini saya mau bagi info mengenai salah satu kafe di Jogja yang cocok banget buat nongkrong teman-teman mahasiswa. Karena apa?........karena wifinya kenceng dan FREE. Sengaja capslock hehehe

Yuup, pernah saya tulis di post sebelumnya tapi gpp ya saya jelaskan ulang 
Jadi Etnik Kafe ini terletak di dalam area Tasneem Convention Hotel Yogyakarta, Kawasan Mandira Baruga (Purawisata) Yogyakarta. Pokoknya dari Jogjatronik Mall tinggal ke selatan dikit, nanti ada apotek ambil belok kiri.

Kafenya bernuansa etnik dengan ornamen & interior bernuansa krem dan coklat, dihiasi bunga-bungan kering nan hits dan garden view yang cantik. Pokoknya ngga kerasa kalo lokasinya itu di tengah kota. Ngga percaya? coba aja deh :-D


Info inti ya gais
Jadi Etnik Kafe lagi ada promo buat Bulan Februari - Bulan April 2020. Markicuz langsung kita intip menu apa aja yang promo yah.

   

Ternyata ngga cuma makanan gais, tapi juga minuman. Kalo menurut saya harganya cukup miring untuk sekelas hotel. Jadi pengen icip-icip semua nih hihihi Info update dan lengkap bisa di cek di Instagramnya ya @ayolatasneem fast respon juga kalo mau tanya-tanya via DM.
Jadi tertarik yang mana nih? share yuuk di komen...



  • 0 Comments
        Daerah Istimewa Yogyakarta atau lebih dikenal sebagai Jogja merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Memiliki kekayaan budaya, keindahan alam, wisata minat khusus yang mendebarkan, jajanan khas yang manis juga keramahtamahan masyarakat yang membuat betah wisatawan. Memiliki Bandara Internasional Adi Sutjipto, membuat destinasi ini cukup mudah dijangkau oleh wisatawan baik dari Indonesia maupun luar negeri. Wisatawan dapat memilih menggunakan jalur udara dan memilih harga tiket pesawat yang sesuai dengan budget liburan yang telah dianggarkan. Beberapa maskapai favorit seperti Air Asia dan Citilink yang sering memberikan penerbangan nyaman dengan harga yang cukup bersahabat. Sebagian besar penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia telah memiliki jalur langsung ke Yogyakarta, sehingga wisatawan tidak perlu transit di beberapa bandara lain di Indonesia. Selain jalur udara, wisatawan juga bisa menggunakan jalur darat dengan mobil maupun kereta api.
Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di D. I. Yogyakarta yang memiliki pesona alam luar biasa. Selain dikenal sebagai taman bumi dunia, Gunungkidul juga tersohor dengan keindahan pantai-pantai berpasir putih dengan barisan karang raksasa yang menakjubkan. Salah satu pantai indah yang belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan adalah Pantai Watu Lumbung. Pantai ini terletak di Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Untuk menuju pantai ini dari Yogyakarta, Anda bisa menggunakan mobil ataupun sepeda motor, dengan jarak tempuh sekitar 2 – 2,5 jam. Anda bisa memilih dua jalur, yaitu :
  • Jalur Pertama : Yogyakarta - Wonosari - Tepus - Balong - Pantai Watu Lumbung
  • Jalur Kedua : Yogyakarta - Wonosari - Semanu - Jepitu - Pantai Watu Lumbung
Jika Anda tidak membawa mobil ataupun motor, Anda bisa menggunakan busa dari Jogja ke Wonosari, kemudian dari Wonosari ke Balong ataupun Jepitu. Selanjutnya Anda bisa menggunakan jasa ojek dari warga setempat dengan tarif yang bersahabat. Nah, dari Jogja menuju Wonosari hingga sampai di Semanu atau Tepus jalan sudah beraspal bagus. Akan tetapi jika mendekati area pantai Anda harus melewati jalan cor blok, bahkan sekitar 400 meter dari pantai Anda akan melewati jalan tanah dan batu yang sudah di susun sedemikian rupa oleh masyarakat untuk menyamankan perjalanan wisatawan meskipun tidak semudah jalan cor blok jika dilewati. Memang butuh perjuangan untuk mencapai pantai ini, akan tetapi semua akan terbayar dengan pemandangan alam yang memesona.
Pemandangan bukit dan laut dari tempat parkir Pantai Watu Lumbung
Jalan menuju Pantai Watu Lumbung, nampak batuan hitam yang merupakan bagian dari Gunung Batur
Tiba di kompleks Pantai Watu Lumbung ini Anda akan dimanjakan dengan pemandangan batuan hitam Gunung Batur yang merupakan kawasan cagar alam geologi, terasering dengan pemandangan hijau yang dihuni oleh kera ekor panjang, suasana Pantai Wediombo, juga langit biru dengan hamparan samudra yang berhiaskan buih-buih putih. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Dari sini kita akan menemukan area parkir sederhana, juga dua warung kecil yang menyajikan air minum dan makanan ringan. Anda akan membutuhkan waktu agak lama untuk mengabadikan moment istimewa dengan pemandangan yang sungguh menyejukkan mata ini. 
Pemandangan dari tempat parkir
Perjalanan tidak hanya sampai disini guys, sesuatu yang indah lainnya telah menunggu di depan mata kita. Yap, watu lumbung yang sesungguhnya masih di bawah sana, di bawah bukit yang kita jejaki. Diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai watu lumbung dan deburan ombak yang menawan. Perjalanan menyusuri bukit ini tidak akan terasa karena kita akan disuguhkan pemandangan menakjubkan dari segala arah mata angin. Hingga tibalah kita di sebuah perbatasan antara bukit dengan pasir, sebuah tanah berumput hijau dengan pohon cemara yang sangat sejuk untuk beristirahat. Well, tibalah kita di watu lumbung yang sesungguhnya guys.
Batuan Gunung Batur yang akan menjadi pemandangan saat kita menuruni bukit menuju Watu Lumbung
Pemandangan bukit dan karang dari bukit
Perbatasan bukit dan pantai yang sangat sejuk untuk berisitirahat
Watu lumbung ini memiliki arti watu : batu, sedangkan lumbung : bangunan untuk menyimpan padi dan biji-bijian. Penamaan watu lumbung ini diberikan oleh masyarakat karena formasi karang di pantai ini mirip sebuah lumbung yang biasa digunakan petani setempat untuk menyimpan hasil panen, terutama batu yang terbesar. Spot batu karang di Pantai Watu Lumbung ini merupakan favorit bagi pemancing. Ketika saya dan keluarga berkunjung ke pantai yang terletak tidak jauh dari rumah saya ini tampak beberapa pemancing sedang menunggu mata kailnya di sambar ikan. Hal yang perlu diketahui wisatawan jika berkunjung ke pantai ini yaitu jangan membayangkan bermain dengan pasir putih dan menuliskan kata-kata romantis di atasnya. Karena pantai ini hampir tidak memiliki pasir sama sekali, hanya ada pelataran batu juga batu karang kecil-kecil. Jangan lupa hati-hati dan tetap waspada juga, karena pada saat tertentu pelataran batu ini bisa sewaktu-waktu tertutup air laut mengingat sisi kanan dan kiri watu lumbung merupakan laut yang cukup dalam.
Watu Lumbung
Pantai Watu Lumbung sangat cocok untuk wisatawan yang suka dengan hal-hal baru, asli dan alami. Jangan lupa persiapkan stamina karena setelah puas menikmati keindahan watu lumbung Anda harus kembali mendaki bukit. Jika Anda berniat untuk bermalam, belum ada hotel sama sekali. Di Wonosari yang merupakan ibu kota Kabupaten ada hotel melati, jika Anda menginginkan hotel berbintang maka Anda harus kembali ke Yogyakarta. Jika Anda tertarik untuk mengenal kehidupan desa yang tentram dan damai lebih dalam, maka Anda bisa memilih homestay warga yang akan membuat Anda merasakan kehidupan desa yang sebenarnya.
Otentisitas dan originalitas Pantai Watu Lumbung inilah yang menurut saya sangat menarik. Karena wisatawan melakukan perjalanan untuk mempelajari sesuatu yang baru bukan? Segala yang sederhana di lokasi Pantai Watu Lumbung ini akan mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga. Perjuangan yang luar biasa untuk mencapai sesuatu yang indah dan menakjubkan. Yuuk, jangan ragu untuk berkunjung ke Pantai Watu Lumbung untuk lebih mengenal alam, kehidupan pedesaan dan segala kesederhanaannya. Jangan lupa tetap hati-hati dan jaga kebersihan ya. :-)
------
Salah satu destinasi wisata yang ingin saya kunjungi dalam waktu dekat ini adalah Lombok, karena Bali sudah cukup sering saya kunjungi. Saya ingin mengajak Ibu saya menikmait keindahan pantai dan pulau-pulau eksotis di Gili Trawangan. Juga mengenal budaya Lombok dengan mengunjungi beberapa desa adat yang ada di sana. Menurut saya Lombok adalah destinasi wisata yang eksotis dan menjadi pilihan banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Selain Lombok, saya memiliki mimpi untuk berkeliling Indonesia menikmati kekayaan alam dan budayanya.
  • 0 Comments
Selamat malam ^_^
Kali ini Niken akan berbagi cerita mengenai perjalanan hari ini menyusuri keindahan di kawasan Lereng Merapi. Sebagai pecinta bunga, berada di antara bunga-bunga cantic dan bermekaran merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa saya jelaskan. Yap, hari ini saya berkunjung ke Kebun Bunga Bakung di Hargobinangun, Sleman, D. I. Yogyakarta.
Bunga seruni, krisan, atau crysanthemum adalah sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hias pekarangan atau bunga petik. Tumbuhan berbunga ini mulai muncul pada Zaman Kapur. Bunga seruni adalah bagian dari tumbuhan suku kenikir-kenikiran atau Asteraceae yang mencakup bermacam-macam jenis Chrysanthemum. Bunga nasional Jepang ini dalam  Bahasa Jepang disebut sebagai キク (kiku). Karena aromanya yang wangi , bunga ini sering di tambahkan ke dalam teh agar lebih wangi dan nikmat (Wikipedia)
Nah, sudah tahu kan mengenai bunga seruni atau lebih popular disebut bunga krisan ini?
Kebun bunga seruni yang saya kunjungi kali ini berada di daerah Jalan Kaliurang Km. 19, nama pemiliknya Pak Suroso. Memang ada beberapa petani bunga di kawasan ini, akan tetapi ada beberapa yang bunganya hanya sedikit atau belum mekar. Setelah bertanya ke warga sekitar, akhirnya saya ditunjukkan kebun milik Pak Suroso yang letaknya memang agak jauh dari jalan raya. Setelah berputar-putar mencari, akhirnya saya dan Mas Ganang menemukan kebun milik Pak Suroso ini. Kebunnya tidak terlalu luas, akan tetapi bunganya sangat banyak, seruni putih dan kuning sudah mekar, dan seruni merah masih kuncup. Indahnya...



Setelah minta izin, akhirnya saya dan Mas Ganang mengambil banyak foto di kebun yang memang sudah di buat sela-sela diantara tanaman sehingga kita tidak menginjak-injak tanamannya. Ketika kami bertanya mengenai tiket masuk dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada tiket masuk, tapi kita bisa memberikan seikhlasnya. 
Well, selamat berkunjung & bertemu seruni-seruni cantik ini. Jangan sampai merusak ya :) 
  • 0 Comments



Kaliurang merupakan salah satu daya tarik wisata favorit yang terletak di lereng Gunung Merapi. Selain memiliki pemandangan alam hijau dengan latar belakang Merapi yang megah, Kaliurang juga terkenal memiliki udara yang sejuk dan segar. Ditambah lagi kuliner khas yang cukup terkenal “jadah tempe” dan teh hangat yang sangat cocok dinikmati di udara dingin. Jarak dari Kota Yogyakarta menuju Kaliurang ini sekitar 25 Km, dan dibutuhkan waktu sekitar satu jam melewati Jalan Kaliurang untuk mencapai daya tarik wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) ini. Secara administratif terletak di Desa Hargobinangun, Kecamatan Paket, Kabupaten Sleman, D. I. Yogyakarta. Kontur wilayah ini berada di dataran tinggi sehingga suhunya sejuk.
Di kawasan TNGM ini terdapat beberapa spot menarik untuk dikunjungi, diantaranya :
1.       Taman Wisata Plawangan Turgo
Plawangan Turgo merupakan hutan tropis dengan berbagai pohon dan tanaman besar yang lebat sehingga udaranya sangat sejuk. Anda bisa menyusuri taman wisata ini dengan soft trekking menyusuri jalan setapak menuju puncak agar bisa menikmati panorama alam Kaliurang yang indah. Di taman wisata ini juga di huni kera yang biasanya muncul di sekitar pengunjung.
2.       Tlogo Putri
Tlogo dalam Bahasa Indonesia berarti telaga atau danau, area ini dinamakan Tlogo Putri karena terdapat sebuah danau kecil yang dapat digunakan untuk bermain kano atau becak air. Tlogo Putri ini terletak di kaki bukit Plawangan Turgo yang merupakan hutan wisata, Tlogo Putri merupakan perpaduan antara wisata alam dan air. Pada hari-hari tertentu sering diadakan hiburan seperti campursari, jathilan dan acara music lainnya di area Tlogo Putri ini.
3.       Gardu Pandang
Gardu pandang merupakan spot menarik bagi wisatawan yang ingin melihat Gunung Merapi dengan jelas, akan tetapi kadang tertutup awan pada waktu-waktu tertentu. Selain melihat kemegahan Merapi, Anda juga bisa menikmati pemandangan hijau di kawasan Kaliurang ini.
4.       Taman Bermain Anak-anak
Kaliurang juga menyediakan sebuah kawasan taman bermain yang cukup luas untuk wisatawan anak-anak. Tersedia beberapa permainan seperti ayunan, mobil-mobilan dll. Taman ini cukup rindang, sehingga sangat cocok untuk berwisata bersama keluarga.

Selain beberapa spot di atas, kawasan Kaliurang juga memiliki spot menarik lainnya yaitu Taman Nirmolo yang merupakan pintu masuk menuju Goa Jepang. Begitu masuk ke Taman Nirmolo, Anda akan langsung melihat petunjuk arah menuju Goa Jepang yaitu mendaki sejauk 900 meter. Di sekitar pintu masuk Taman Nirmolo ini juga ada taman bermain dan gardu pandang, akan tetapi saya dan Mas Ganang terus melanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang. Jalanannya menanjak dengan medan yang cukup sulit, sementara saya hanya mengenakan sandal jepit (karena tidak ada planning ke Goa Jepang :-D). Jalan setapaknya cukup sempit, terususun dari batuan dan tertutup daun-daunan. Lelah memang, tapi udaranya cukup sejuk dan segar. Perjuangan panjang mengenakan sandal jepit, akhirnya saya tiba juga di Goa Jepang.


Menurut beberapa sumber, Goa Jepang di Kaliurang ini dahulu difungsikan oleh Tentara Jepang sebagai tempat tinggal dan berlindung dari Tentara Sekutu. Berbeda dengan karakter Goa Jepang yang ada di beberapa kota lain di Indonesia, Goa Jepang yang berada di Kaliurang ini berjumlah 25 unit. Goa-goa tersebut saling berhubungan satu sama lain, masih orisinal, dan tanpa penerangan. Karena kondisi dalam goa yang gelap, maka pengunjung bisa menyewa senter di depan goa pertama dengan tarif Rp. 5.000/senter. 

Setelah berjalan menyusuri goa-goa kami kembali turun dan beristirahat sebentar di taman bermain. Banyak pengunjung juga yang bermain ataupun sekerdar beristirahat di sini. Tidak berbeda dengan kawasan Plawangan Turgo, kompleks ini juga dihuni kera J Tips jika Anda ingin berkunjung ke kawasan ini : jangan lupa mengenakan pakaian yang nyaman karena akan soft trekking, kenakan sepatu yang aman, karena banyak kera jaga makanan dan minuman agar tidak direbut kera. Kera di kompleks ini cukup jinak menurut pedagang setempat, biasanya tidak merebut makanan dengan paksa.



  • 1 Comments
Zaoshanghao, Hong Kong
Pagi ini, 12 November 2015 saya mendarat di Hong Kong dengan selamat setelah perjalanan dari Jakarta kurang lebih ditempuh selama 3-4 jam. Jadwal penerbangan dari Jakarta saya pukul 00.10 dengan Cathay Pacific Airways dan tiba di Bandara Hong Kong pukul 05.50 (waktu Hong Kong lebih cepat satu jam dari waktu Jakarta). Well, pasti bahagia sekali menginjakkan kaki pertama kali di negara yang terkenal dengan gedung pencakar langit, padat dan suasananya selalu hidup.
Karena hari masih sangat pagi, begitu turun dari pesawat saya dan tim duduk di ruang tunggu sambil men-charge telpon gengam. Di sekeliling kami banyak juga yang duduk di ruang tunggu, sebagian besar dari mereka menggunakan Bahasa Mandarin, sangat menarik bagi saya.
Karena kami hanya transit selama 6 jam, maka oleh guide kami dilarang keluar dari bandara. Akhirnya saya dan beberapa teman hanya jalan-jalan di dalam bandara yang sangat bersih dan free wifi ini. Melihat-lihat toko yang ada dengan harga yang cukup fantastis bagi saya. Banyak hal menarik bagi saya di bandara ini, ada Teddy Bear raksasa di depan Harrods, 3D Trick Eye Museum juga kepala Budha yang di susun dari kaleng-kaleng kecil. Kepala Budha ini yang sangat menarik bagi saya, bentuknya sangat mirip dengan Arca di Candi Borobudur.


 Oh iya, kami juga makan pagi di food court di area bandara. Karena saya membawa bekal roti dari Indonesia, juga roti dari pesawat yang sempat saya bungkus (hehehe) maka saya cukup membeli air mineral. Dengan kemasan sekitar 600ml, harganya 26 Dollar Hong Kong, kalua di Rupiah kan di atas 50.000.

Selain beberapa hal menarik yang saya temui sebagai spot berfoto, desain modern dan penataaan ruang boarding yang cukup easy-to-understand meskipun kita baru pertama kali tiba di bandara ini. Pelayanan petugas sangat bagus dan profesional serta ramah.

Nah, ini detail mengenai bandara Hong Kong. Bandar Udara Hongkong merupakan bandara internasional yang melayani daerah Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok dengan kode IATA HKG dan kode ICAO vhhh. Nama lain dari bandara ini adalah Bandara Chek Lap Kok. Bandara ini terletak di Pulau Chek Lap Kok dan sejak dibuka pada tahun 1998, menjadi salah satu pusat transit yang penting di dunia karena posisinya yang strategis. Bandara berkapasitas 45 juta penumpang dengan 3 juta ton kargo dan setelah landas pacu kedua dibuka pada Mei 1999, kapasitas meningkat menjadi 87 juta penumpang dan 9 juta ton kargo. Bandara yang menjadi pusat operasi Cathay Pacific, Dragon Air, Air Hong Kong, CR Airways dan Hong Kong Express ini mendapatkan penghargaan sebagai bandara terbaik dari majalah Skytrax selama 5 tahun berturut-turut, yaitu tahun 2001-2005. Saat ini terdapat 2 buah landas pacu dengan panjang 3.800 meter dan lebar 60 meter. Nama landasan tersebut adalah 07L/25R dan 07R/25L yang berarti bisa juga dibedakan sebagai landasan utara dan selatan.  (Wikipedia)                                                          


 Visit Hongkong : 12 November 2015
  • 0 Comments
Hallo...Been a while no surfing the blog :-D

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu museum Kerajaan Berau yaitu Museum Batiwakkal yang terletak di Berau, Kalimantan Timur. 

Untuk mencapai lokasi, dari Tanjung Redeb dapat ditempuh dengan dua jalur yaitu darat dan sungai. Bila menggunakan jalur darat, kita hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalanan beraspal, sedangkan bila menggunakan jalur sungai hanya memerlukan waktu tak lebih dari 5 menit. Dari pelabuhan Tanjung Redeb, kita cukup menyewa ketinting (perahu kecil bermotor khas Kalimantan Timur) untuk menyeberangi Sungai Segah. Nah, pada perjalanan saya 26 Oktober 2014 lalu, saya menggunakan sepeda motor yang saya sewa seharga Rp. 100.000/hari. 

Museum Batiwakkal yang terletak di tepi Sungai Segah ini berdekatan dengan Istana Sambaliung, hanya dibelah ole Sungai. Sambaliung merupakan istana Kesultanan Gunung Tabur yang memisahkan diri dari Kerajaan Berau tahun 1700-an. Kesultanan Berau kemudian terbagi menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini istana dan kerajaan Gunung Tabur termasuk dalam wilayah Kecamatan Gunung Tabur, dan diresmikan sebagai Museum Batiwakkal pada tahun 1992.


Museum Batiwakkal, Berau, Kalimantan Timur
Bangunan museum ini tampak kecil dan sederhana, tetapi elegan dan menawan, identik dengan warna kuning sebagai simbol kemegahan dan kekayaan. Koleksi yang dipamerkan di dalam museum ini adalah peninggalan Kerajaan Gunung Tabur seperti keramik, uang dari berbagai negara di dunia, juga replika beberapa atribut kerajaan seperti singgasana raja, pelaminan, ranjang dll. Pertama memasuki kawasan museum ini, saya hanya melihat anak-anak di sekitar museum yang setela saya tanya ternyata mereka memiliki jadwal rutin untuk berlatih menari di museum. Setelah memohon ijin ke pengelola kami pun diantar berkeliling museum, yang kami jumpai pertama kali adalah replika singgasana kerajaan yang di dominasi warna hitam dan kuning. Ini dia isi Museum Batiwakkal :


Replika singgasana raja dan permaisuri
Tempat khusus untuk khatam Al-Quran
Koleksi mata uang dari berbagai negara

Sulimbar
Sulimbar adalah tempat peristirahatan istri raja sebelum dan sesudah melahirkan. Dibuat denga posisi miring, diharapkan bayi dan darah kotor cepat keluar. Istri raja menggunakan sulimbar ini kurang lebih satu minggu. Di dekat sulimbar terdapat ayunan bayu, yang juga di dominasi warna kuning.


Walasugi/ Walagandi, pelaminan bangsawan Berau
Walasugi/ Walagandi adalah pelaminan bangsawan Berau. Jika kedua mempelai merupakan keluarga bangsawan, maka rumbai di atas bertingkat dua. akan tetapi jika hanya salah satu mempelai yang berasal dari keluarga bangsawan maka rumbai tersebut hanya satu.


Ruangan ke empat merupakan dapur, memiliki koleksi berbagai peralatan memasak tradisional seperti gelas, sendok, garpu, tungku, guji dan berbagai peralatan memasak lainnya.

Ruang selanjutnya berisi koleksi berbagai pakaian kerajaan mulai dari pakaian raja, permasuri, putera dan puteri raja dalam berbagai versi, baik yang digunakan untuk keseharian maupun upacara-upacara kerajaan. Salah satu koleksi di dalam ruangan busana kerajaan ini terdapat juga ranjang pengantin bangsawan.

Ranjang pengantin bangsawaan Kerajaan Gunung Tabur

Selain koleksi-koleksi yang saya tampilkan gambarnya di atas, masih banyak lagi koleksi di dalam museum ini, seperti foto-foto raja dan permaisuri, silsilah kerajaan, guci dan keramik, busana kerajaan, foto pakaian pengantin, ruang rias calon pengantin dan juga simbol kerajaan Gunung Tabur.



Oh iya, untuk masuk ke musium ini tidak ada tiket masuk ataupun tarif parkir, hanya ada kotak amal yang bisa kita isi seikhlasnya. Well, ini kisah perjalanan saya di Museum Batiwakkal, Berau. Kalau ke Berau, jangan lupa mampir yah guys :)









  • 0 Comments
Pantai Jungwok, sebuah pantai tersembunyi yang terletak tidak jauh dari Pantai Wediombo. Masih sejalur dengan Pantai Wediombo, tapi sebelum sampai di lokasi parkir Anda harus berbelok kanan menyusuri jalan bebatuan yang masih sangat menantang untuk dilewati.

Bersih, sepi dan tenang, itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika sampai di Pantai Jungwok. Pasirnya putih dan landai, di sisi kiri terdapat bukit, dan disisi kanan tumbuh-tumbuhan hijau seperti pandan laut. Di tengah-tengah pantai terdapat batu besar yang sukses membuat saya berandai-andai untuk berfoto ria di atasnya.
Batu besar yang membuat saya berandai-andai :-)

Lebih dari sekedar jalan-jalan dan menikmati pemandangan, kami bertemu dengan Mbah Kemis. Wanita tua yang tengah mengumpulkan kecrik (cangkang-cangkang hewan) untuk dijual Rp. 4.000/omprong (rantang). Menjelang senja, simbah masih asik duduk memilah-milah kecrik di pasir. Saya dan teman-teman mulai tergelitik untuk menyapanya. Rumah beliau berada di Jepitu, sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor, tapi sehari-harinya beliau tidur di ladang dan hanya sesekali saja pulang ke rumah. Keramahan dan keceriaan di wajahnya menggambarkan bahwa kerasnya hidup tidak ada artinya jika didasari dengan rasa syukur.



Itulah sepenggal kisah perjalanan saya menikmati keindahan Pantai Jungwok. Keindahan, kesederhanaan dan rasa syukur, pelajaran berharga yang tak semua orang mendapatkannya.

Jungwok, wait for me to come back.

May 1, 2014
  • 0 Comments
Dilahirkan di sebuah desa kecil, terpencil, jauh dari modernitas dan kebisingan...Dulu, semuanya biasa saja...rumput gajah, tanah liat putih, sungai-sungai dan juga Pantai Wediombo. Tapi setelah bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu di kota, dan ketika kembali seketika berubah. Ada rasa haru, sedih dan semua hal yang dulu tampak biasa itu menjadi begitu indah, begitu penuh kenangan.


Menyusuri jalanan berkelok-kelok, sekitar 2,5 jam perjalanan dari Yogyakarta menuju Pantai Wediombo. Pantai ini terletak di Jepitu, Girisubo, Gunungkidul. Namanya Wediombo, gabungan 2 kata bahasa Jawa wedi yang berarti pasir dan ombo yang berarti luas. Pantai berpasir putih ini memiliki barisan karang yang indah.

Di barisan karang sebelah selatan Pantai Wediombo merupakan spot favorit bagi para pemancing. Jika beruntung, Anda akan mendapatkan ikan panjo yang panjang dan pipih. Diantara barisan batu karang berwarna kehitaman terdapat sebuah laguna yang mirip kolam renang sehingga sering disebut sebagai kolam renang alami. Tentunya laguna ini bisa dibuat untuk berenang karena ombak terhalang batu besar.

Kolam Renang Alami Wediombo
Berkali-kali berkunjung ke Pantai Wediombo sebelumnya saya belum pernah menginjakkan kaki di sisi selatan, tepatnya di sebelah laguna. Sebuah bukit tinggi berhiaskan daun pandan yang menghijau, dan saya menyebutnya hutan daun pandan. :-) 


Setelah melewati hutan daun pandan laut yang hijau kami menyusuri jalan setapak di tepi ladang penduduk. Tanaman-tanamah khas seperti saat saya kecil dulu, tanah liat berwarna putih, petani-petani yang menggarap ladangnya, tanaman kacang yang mulai menguning dan semuanya itu jelas sekali indahnya.


the most unidentified feeling come when you back to a place called "home"
A place where I grew up...
Just promise to my self, I will always back...

May 1, 2014

  • 0 Comments
Dieng, 27 April 2014

Menerobos dinginnya Dieng dini hari, pukul 03.00 WIB saya dan teman-teman sudah bersiap menuju Gunung Sikunir untuk berburu sunrise. Kurang lebih setengah jam kami menempuh perjalanan dari homestay yang terletak di kawasan Candi Arjuna menuju lokasi parkir Gunung Sikunir. Dilanjutkan berjalan kaki dari parkiran menuju kaki Gunung Sikunir. Yapp dilanjutkan dengan pendakian menuju puncak Sikunir kurang lebih satu jam. Jalur pendakian yang gelap dan udara dingin tetap kami nikmati demi menyaksikan detik-detik merekahnya sunrise dari bukit Sikunir.

Sikunir adalah salah satu bukit tertinggi di kawasan Dieng Plateau. Dengan ketinggian kurang lebih 2350 mdpl kita bisa menikmati indahnya momen terbitnya matahari dengan latar Gunung Sindoro-Sumbing. 

Yapp...akhirnya kami tiba di Puncak Sikunir. Perlahan mulai tampak semburat merah indah diantara awan-awan. What n amazing view :-)

Detik-detik menunggu Golden Sunrise

Waktu terus berjalan, saya masih sabar menunggu sang golden sunrise yang menakjubkan. Perlahan suasana mulai terang, tapi saya kurang beruntung karena pagi itu cuaca tidak begitu cerah sehingga saya tidak mendapatkan sang golden sunrise :-( Well, buat menghibur diri, saya berjalan menuju beberapa titik di puncak Sikunir dan saya menemukan panorama yang indah, diantaranya gunung yang menjulang indah, panorama Telaga Cebong yang segar juga terasering dengan tanaman sayuran yang menyejukkan mata. 



Sekitar pukul; 06.00 saya dan teman-teman mulai berjalan menuuruni Gunung sambil menikmati kabut yang menyelimuti desa-desa di bawah Sikunir. Berhubung hari sudah mulai terang benderang, kami juga dapat menyaksikan ladang sayuran petani dengan dominasi cabe Dieng dan Carica. Yaah..saya suka pemandangan itu, terlihat segar dan hijau. 





Emmm..that's about my journey to Sikunir...:-)
  • 0 Comments
       Berlibur ke Karimunjawa adalah sebuah mimpi yang menunggu untuk di wujudkan. Mimpi itu akhirnya terwujud dengan jadwal trip yang sudah kami tentukan, yaitu 29 Juli – 2 Agustus 2013. Ya, 4 hari 3 malam, cukup bagi kami untuk menikmati pulau surga yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya itu.
Tanggal 28 Agustus 2013, saya dan 9 teman saya sudah bersiap menuju Pelabuhan Kartini, Jepara. Jarak tempuh Jogja Jepara menggunakan taxi kira-kira 6 jam saja, karena saat subuh kami sudah tiba di Jepara.
         Berbekal nol pengalaman ke Karimunjawa, akhirnya kami bersantai menikmati mie dan berbagi cerita sambil menunggu kapal yang berangkat jam 08.00 WIB. Setelah tiket dibagikan, kami baru beranjak menuju kapal yang ternyata sudah penuh, saya dan rombongan tidak mendapatkan tempat duduk, akhirnya kami menuju dek atas kapal. Perjalanan Jepara – Karimun Jawa selama 6 jam terasa begitu panas dan lama. Setelah cukup lama berpanas-panasan di atas dek kapal, Pulau Karimun Jawa mulai tampak cantik. Ketika kapal membunyikan jangkarnya, semua orang bersorak-sorai. Ya, akhirnya saya tiba di pelabuhan Karimujawa.
     Beristirahat sejenak dan menikmati es kelapa muda setelah berpanas-panasan di kapal serasa menemukan oase di tengah padang pasir. Setelah mandi di homestay dan saya merasa kembali segar, pemandu mengajak kami menikmati sunset view di Jembatan Barat. Indah sekali, tampak sang batara surya menyebunyikan diri di balik semak-semak, di atas hamparan laut yang tenang.

       Hari kedua di Karimunjawa, sesuai jadwal saya dan tim seharusnya snorkeling ke arah timur, yaitu ke daerah Pulau Tengah dan Pulau Kecil. Akan tetapi pemandu memberitahukan bahwa rute untuk hari ini ke arah barat, karena daerah timur ombak besar. Akhirnya kami menuju barat. Agenda hari ini snorkeling, bakar ikan, snorkeling lagi, kemudian menikmati sunset di Tanjung Gelam. Terumbu karang, ikan-ikan kecil, pantai yang indah dan ikan bakar yang lezat mengisi tour laut hari pertama.

13765441591221097021
Taken by : Ganang Widi

        Tour laut hari kedua, saya dan rombongan menuju ke arah timur, ombak masih besar saya rasa, karena goncangan kapal terasa sekali. Perjalanan dari pelabuhan kecil dekat alun-alun menuju Pulau Kecil dan Pulau Tengah ini sangat lama, lebih dari satu jam saya rasa. Seperti biasa, pemandu membawa kami menuju titik dengan terumbu karang indah. Sedang asyik bersnorkeling dan member roti untuk ikan-ikan kecil, tiba-tiba awan hitam muncul dan angin mulai terasa kencang. Kapal segera membawa kami menuju Pulau Tengah untuk beristirahat dan menikmati ikan bakar untuk makan siang.


       Tour hari kedua ini seharusnya menjadi hari terakhir kami menikmati keindahan Pulau Karimunjawa, karena esok pagi-pagi kami harus kembali menuju Jepara. Akan tetapi alam berkata lain, malam hari pemandu kami member kabar bahwa cuaca buruk dan kapal tidak diijinkan untuk berlayar. Wah, sedikit galau juga mendengar kabar itu. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk tidak mempermasalahkan penundaan pulang bagi kami. Kami menikmati hati keempat di Karimunjawa dengan jalan-jalan di sekitar alun-alun dan berbelanja di pusat oleh-oleh. Hari keempat terlewati begitu saja, dan saya mulai gelisah lagi ketika lagi-lagi pemandu kami memberi informasi bahwa kapal belum bisa berlayar, kemungkinan kapal baru akan berlayar tanggal 6 Agustus 2013, dengan catatan apabila cuaca mulai membaik dan ombak sudah bersahabat kembali. Sempat bingung, jika tanggal 6 Agustus baru bisa kembali ke Jepara, berarti saya akan berada di Karimunjawa 8 hari 7 malam.

        Setelah mendengar kabar mengenai cuaca buruk, saya dan 4 teman saya mencoba mengusir galau dengan berjalan-jalan menuju sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari homestay yang saya tinggali. Entah apa nama bukitnya, yang jelas masih sebaris dengan Bukit Joko Tuwo. Dari atas bukit, tampak lautan Karimunjawa yang berwarna biru dan hijau tosca.

       Selanjutnya saya dan rombongan mencoba menyusuri Pulau Karimunjawa bagian timur, yaitu ke daerah Kemujan. Kami diajak pemandu untuk menyusuri hutan mangrove, kemudian menyempatkan diri menuju Bandara Karimunjawa, juga berkunjung ke Tanjong Tracking Adventure.

Sebuah perjalanan istimewa menurut saya. Dari rencana 4 hari menjadi 8 hari. Tapi Tuhan punya rencana lain, dengan waktu lebih lama disana saya bisa menyusuri Pulau Karimun Jawa yang indah dan memesona. Banyak sekali hal-hal yang tidak bisa saya temukan di daerah tempat tinggal saya, yaitu listrik yang hanya akan menyala selama 12 jam, yaitu pukul 18.00-06.00 WIB. Sungguh sesuatu yang sangat sulit dijalani, tapi akan terasa asyik jika kita menikmatinya.
  • 2 Comments
       Kotagede merupakan sebuah daerah di Yogyakarta yang terkenal dengan hasil kerajinan perak yang sering disambangi wisatawan untuk membeli oleh-oleh. Kerajinan perak Kotagede ini telah di desain menjadi beraneka bentuk dan ukuran, tentunya dengan harga yang bervariasi pula. Nah, kalau ke Jogja coba deh mampir ke Kotagede. J
Terlepas dari pusat industri kerajinan perak di Yogyakarta, Kotagede memiliki sejarah dan arsitektur serta budaya yang unik untuk ditelusuri. Jumat Kliwon, 27 Desember 2013 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti Kotagede Night Tour lagi. Kotagede Night Tour merupakan kegiatan jelajah menyusuri perkampungan Kotagede, termasuk memahami dan mempelajari setiap sudut Kotagede yang memiliki tata ruang dan arsitektur unik.
Perjalanan night tour dimulai pukul 07.04 WIB dari Pendopo nde’Luweh Jl. Ngeksigondo no.54 Kotagede. Bersama guide lokal Kotagede, Bapak Natsir, kami beserta rombongan sekitar 20 orang mulai menyusuri Kotagede.

Kotagede di malam hari. Source : latitudes.nu
Kotagede memiliki beberapa keunikan, diantaranya rumah-rumah warga yang saling berdekatan, masyarakat yang ramah dan arsitektur yang unik. Mulai menjejakkan kaki di rumah-rumah warga, mulai terasa keramahtamahan masyarakat. Ketika kami menyapa “nderek langkung” meraka akan dengan senang hati menjawab “monggo-monggo” dengan senyuman ramah. Perjalanan terus kami lanjutkan menyusuri lorong-lorong sempit diantara rumah-rumah dengan berbagai macam arsitektur, mulai dari rumah adat Jawa Joglo dan Limasan, rumah modern hingga perpaduan antara rumah tradisional dengan modern.
Perjalanan terus berlanjut dan kami tiba di sebuah area yang terkenal dengan sebutan Between Two Gates. Dalam bahasa Indonesia, Between Two Gates diartikan sebagai “Di Antara Dua Gerbang”. Frasa ini digunakan untuk menyebut salah satu bentuk sistem tata lingkungan kampung di Kotagede. Di area ini, terlihat rumah-rumah warga sangat dekat dan diantara 2 tembok terdapat atap yang menghubungkan rumah tersebut. Tata lingkungan seperti ini membuktikan bahwa masyarakat Kotagede selalu menjaga kerukunan dengan tetangga.
Di tengah perjalanan, Bapak Natsir mengajak kami untuk singgah di rumahnya yang luar biasa indah. Penuh dengan kayu-kayu kuno yang diukir unik. Ada sebuah pintu kayu yang membawa kamu masuk ke kawasan rumah Pak Natsir, dan ternyata tepat di depan rumah terdapat Joglo megah dengan lampu dan arsitektur yang mengagumkan pula. Di Joglo ini kami dijamu wedang secang dan beraneka makanan khas Kotagede, satu diantaranya adalah Kipo.
Selanjutnya, saya kembali menemukan satu hal istimewa di Kotagede. Sebuah rumah dengan tembok tinggi dan gerbang megah, juga sebuah pendopo yang terletak di sisi kanan. Itu merupakan nDalem Sopingen. Joglo dengan cahaya lampu eksotik ini memancarkan sebuah kenangan, karena dahulu Joglo ini dimanfaatkan untuk ruang publik.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika kami menginjakkan kaki di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede. Sebuah pohon beringin raksasa menyambut kami malam itu setelah kami memasuki pintu masuk. Meskipun sudah malam, kompleks makam ini masih ramai dikunjungi orang. Memasuki gerbang kedua, kami melihat sebuah masjid yang masih juga ramai dikunjungi orang. Di depan makam ini terdapat beberapa tanaman sawo kecik yang ditanam secara beraturan. Konon, sawo kecik ini ditanam karna akan membawa “sarwo becik” (serba baik) bagi kehidupan. Memasuki kompleks makam pun, saya juga masih terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan yang indah. Benar-benar sebuah perjalanan berharga.
  • 0 Comments
        Senin sampai Sabtu merupakan hari-hari untuk memburu rejeki, bahkan menjadi waktu yang panjang dan melelahkan. Saat sabtu tiba, seolah meneguk oase di padang pasir. Gembira menyapa. Saya dan beberapa sahabat saya penggemar “blusukan”, memang sudah merencanakan untuk mengisi weekend dengan kemah di salah satu pantai yang belum cukup terkenal di Gunungkidul.
Perjalanan dari Jogja menuju Gunungkidul terasa cukup panjang, karena kami singgah dahulu di rumah saya di Wonosari untuk mengambil gelas yang lupa tidak kami bawa. Akhirnya, sekitar pukul 20.30 kami baru menginjakkan kaki di Pantai Siung. Kamipun menikmati makan malam berupa nasi bungkus di sambil menunggu rekan kami, Mas Arief dan Mas Wahyu.
Setelah dijelaskan mengenai gambaran Pantai Nglambor, saya sempat berfikir dua kali. “ Disana tidak ada lampu/ penerangan, juga tidak ada toilet”. Ya, akhirnya kami beranjak meninggalkan Pantai Siung, menuju Pantai Nglambor. Pantai Nglambor terletak tidak begitu jauh dari Pantai Siung, tapi suasananya sangat berbeda. Di Pantai Siung, kita merasakan suasana ramai karena banyak wisatawan sedang berkemah. Nah, di jalan menuju Pantai Nglambor ini suasananya sangat sepi.
Memasuki jalan berbatu, terpaksa kami harus turun dari mobil dan berjalan kaki menuju Pantai. Karena ini edisi perdana saya mengunjungi Nglambor, saya tidak tahu sama sekali keadaan di sana. Saya hanya melihat sekeliling gelap, dihiasi lolongan anjing dan debur ombak. Yaa, saya hanya nurut saja ketika sahabat-sahabat saya mendirikan tenda di tempat yang menurut mereka strategis.
Tenda sudah berdiri, kami pun mulai membuat api unggun. Menyeduh kopi dan the, membakar jagung dan pastinya bersenda gurau dengan suasana alam, tentunya sangat berbeda dengan keadaan kami sehari-hari. Hal istimewa pun terus berlanjut sampai kami beristirahat, terasa sekali tidur di alam bebas, tanpa kasur, tanpa bantal, tanpa listrik. Mungkin banyak yang belum pernah merasakannya.

Mbak Tika sedang menikmati api unggun di pinggi tenda :-D





Kopi, teh dan jagung bakar sebagai teman bergurau

Sunrise pun terlewatkan, saya terlalu puas menikmati buaian keaslian di taman bernama Pantai Nglambor ini. Begitu keluar dari tenda, pemandangan luar biasa membentang di depan mata. Tepat di samping tenda merupakan gerombolan daun pandan, saat saya sibak, subhanallah indah sekali, terbentang pantai yang bersih dan sepi.  Dan kebiasaan cuci muka setelah bangun tidur tetap terbawa. Mulai khawatir mau cuci muka kemana dan dimana, Mbak Acie menunjukkan sebuah mata air segar yang berada di tepi pantai. Subhanallah.
Mba Rani sedang menikmati mata air Pantai Nglambor yang segar

Narsis dulu walaupun belum mandi :-D
 
Setelah berfoto-foto sambil menikmati keindahan Pantai Nglambor ini, Mbak Acie mengajak saya mengunjungi rumah sederhana yang berada di bukit kecil, di atas pantai. Yaa, disana tinggal sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Meninggalkan rumah yang ada di desa tak jauh dari pantai, mereka memilih menikmati masa tua di tepi pantai, hidup sederhana tapi romantis.
Foto bareng Mbah Mo
Yaa, itulah sekelumit cerita liburan saya di Pantai Nglambor. Sederhana, tapi menjadi istimewa untuk mereka yang bisa menikmatinya. Terlalu banyak yang indah dan berharga dalam perjalanan saya ini, dan untuk merasakannya tidak cukup hanya dengan membaca tulisan saya. Utamanya, banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari kegiatan kemah di Pantai Nglambor ini. 
Tetap jaga alam ya…Salam pariwisata :-)

Ngalambor, Mei 2013





  • 0 Comments
Older Posts Home

About me

a


Niken Widi

Seorang Working Mom yang menulis untuk berbagi cerita. Seorang Sarjana Pariwisata yang kini menjadi praktisi Public Relations & Marketing Communication di sebuah hotel di Yogyakarta. Enjoy my blog & find me on Instagram @nikenwidii.

Follow Me

  • instagram
  • facebook
  • Twitter
  • youtube

Blog Archive

  • ▼  2020 (6)
    • ▼  March (3)
      • Hotel di Jogja untuk Babymoon
      • Ayola Tasneem Rebranding menjadi Tasneem Conventio...
      • Tentang Working Mom
    • ►  February (3)
  • ►  2019 (2)
    • ►  May (2)
  • ►  2018 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
  • ►  2014 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (3)
    • ►  December (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2012 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2011 (17)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (5)
    • ►  July (3)
    • ►  June (4)
    • ►  May (1)

recent posts

Labels

About Daily Life Review Tips & Trick Travel

instagram

Find me on Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top